Tuesday, October 7, 2014

Yuk, Berhijab!

Sedikit bercerita…

Kata orang dan sadar sendiri transformasi ke-agamis-an ku dari 3 bulan kebelakang bener-bener kerasa banget perubahannya. Takjub sama diri sendiri juga. Saat ini memang aku ngerasa lebih ingin mendekatkan diri sama Yang Maha Pencipta. Lagi banyak keinginan dan do’a yang pengen bisa dikabulkan oleh sang khalik ku rasa, tapi terlepas dari ‘ada maunya’ tersebut mungkin ini merupakan “hidayah” dari jilbab yang kini aku kenakan setiap saat keluar rumah, ataupun bertemu dengan orang yang bukan muhrim.

Yep, sebenarnya sejak lama sebagai umat muslimah yang tunduk pada aturan agama keinginanku buat berjilbab direalisasikan, terlebih dari keluarga mama yang hampir semua anak perempuan berjilbab, apalagi ketika aku melanjutkan kuliah di S2... di kelas hanya aku perempuan yang belum menutup aurat dengan sempurna. Sampai akhirnya seorang teman menyuruh membaca dengan meminjamkan buku tentang tuntunan perempuan berjilbab. Awalnya aku merasa tersinggung seperti “siapa dia? Kenapa ikut campur dengan urusan penampilanku?” Tidak, sesungguhnya bukan aku tersinggung. Tapi malah aku takut, dengan membaca buku tersebut aku akan “taubat” sementara hatiku belum sepenuhnya ingin menuruti kewajiban yang sebenarnya telah Allah perintahkan sejak aku mengalami masa akil baligh. Aku tahu sebelumnya, jika aku membaca buku itu, endingnya aku pasti akan “bertransformasi”. Dengan berat hati aku terima pinjaman buku tersebut. Lama aku diamkan buku itu di rak buku. Ketika temanku bertanya seminggu, 2minggu, 3minggu setelah hari itu “Sudah dibaca belum bukunya?” aku hanya jawab “Sudah, tapi baru 1 Bab” padahal faktanya buku tersebut belum aku baca 1 alineapun…

Aku bukan seorang kantoran, aku belum mempunyai penghasilan, setiap harinya hanya menemani mama mengobrol yang ntah seperti tidak akan pernah habis tema untuk dibahas. Kadang aku berpikir, ketika aku menjadi pengangguran begini mungkin Allah masih mengizinkan aku untuk lebih dekat bersama mama sebelum suatu saat nanti akan ada waktu aku berpisah dengan mama; ntah karena kerjaan ataupun karena aku tinggal bersama suami hihi aamiin. Akibat banyak waktu luang, akupun merasa bosan sampai pada titik aku sesekali melirik buku berwarna pink di rak buku dengan judul “Yuk, Berhijab” karangan Felix Siauw itu. Yasudah, aku akan coba membacanya, mungkin sudah waktunya, membulatkan tekad. 3 hari secara perlahan dan santai aku terus memaknai setiap kata-kata yang ada pada buku tersebut. Amazed, semua pertanyaan dan alasan keraguanku mengenai jilbab terjawab di buku itu. Memang, alasan aku belum memakai jilbab yang utama adalah……… aku takut tidak bisa mendapatkan pekerjaan yang ‘kece’. Tubuhku pendek, jelas akan memperburuk keadaan bila aku berjilbab, aku akan ditaruh di kantor sebagai posisi terbelakang, pikirku selama ini. Belum lagi aku pandai berkhayal, aku ingin menjadi princess dalam sehari ketika aku menikah nanti saat resepsi; rambutku harus menjuntai indah dihiasi oleh hiasan-hiasan rambut lucu-lucu. Jika memakai jilbab, bagaimana bisa ketika resepsi pernikahan nanti rambut indahku dilihat orang yang bagai princess Rapunzel atau princess Elsa? K Itulah 2 alasan kuat untuk tidak berhijab.

Halaman demi halaman ku baca buku itu, keraguanku mengenai mendapatkan pekerjaan yang kece dijawab dengan lantang oleh si pengarang yang juga seorang ustadz ternama
“MEMANGNYA YANG MEMBERI REJEKI ITU BOSS KAMU? APAKAH KAMU TIDAK TAHU, YANG MENGATUR REJEKI ITU ALLAH SWT!!”
kalimat itu terus-terus ku baca sampai akhirnya aku sadar, selama ini jika bukan dari pertolongan Allah, aku mendapatkan uang darimana untuk hidup? Hey, ingat aku belum mendapatkan penghasilan sendiri! Dan magicnya lagi, ntah suatu kebetulan atau apa, aku nonton tayangan mengenai pernikahan islam disalah satu stasiun televisi. Dan ditayangan itu menampilkan perempuan-perempuan berjilbab ketika akad dan resepsi pernikahan. Dan Ya Allaaaah chantiknyaaaaaaah~~~ ternyata berjilbab gak menutup aura kecantikan saat menjadi pengantin! Tetap seperti princess! :’)

Sudah, tekadku bulat untuk mulai berjilbab, keraguanku selama ini Allah telah menjawabnya secara perlahan, dan… indah… Saat itu bulan puasa. Aku kukuhkan berjilbab mulai saat lebaran. Kemudian musibah menghampiriku, pertengahan bulan puasa aku dihadiahi penyakit cacar sama Allah, helloooo kenapa baru kena cacar kala umurku sudah tua begini???? (sediiiiiiihhhhh) untungnya pacarku menghibur katanya, “kamu dikasih cacar sama Allah biar kamu dibersihin dulu dari dosa-dosa, kan kamu sudah punya niat baik, makanya dikasih penyakit yang berat dulu” uuuuuwuwuwuwu, dia ngomong gitu emang ada benernya juga sih. Cacar mengidap keseluruh tubuh dan wajahku, berbekas, dan tidak indah sama sekali. Ya Allah, terimakasih, berkatnya aku sadar aku harus benar-benar yakin untuk berjilbab, menutup aurat (sekalian) juga menutup ketidakindahan ku.

… lebaran datang, semua bergembira, umat islam merayakan kemenangannya. Aku? Akupun merayakannya dengan mulai memakai jilbab.
Sekian ceritaku, apa certamu? (loh)

Yaaa, jadi intinya gitu. Menurutku berjilbab itu bukan perkara siap atau tidak siap, yakin atau tidak yakin. Memang istiqamah itu datangnya dari keyakinan, dan keyakinan itu perlu pembuktian… Kalo sudah ada niat, pasti akan ditunjukkan secara perlahan oleh Sang Maha Kuasa. Apa yang membatmu ragu, carilah jawaban atas keraguanmu itu. Meskipun niatku berjilbab tadinya di nanti-nanti sampai menikah, tapi ternyata Allah menyuruhku berjilbab lebih cepat. Siapa tahu mengenai umur manusia, taunya sebelum menikah umurku diambil sama Allah? Efeknya, aku lebih mendekatkan diri kepada Allah:
  • Yang biasanya acuh jika meninggalkan solat, kini merasa amat sangat berdosa jika menyepelekan solat 5 waktu. Dan lagi, solat malam yang dulunya tidak pernah ku kerjakan, kini aku sadar, mengobrol dengan Allah enaknya malam-malam, ketika seekor ayam berkokok disepertiga malam.
  • Yang 3 bulan SEBELUM BERJILBAB aku emoh-emohan disuruh nonton tayangan mengenai hijabers oleh mama, kini ku paling menantikan acara hijabers di televisi.
  • Beberapa hari lalu bahkan sempat ngobrol sama temen, dengan reflex dan gak kerasa kalimat-kalimat Thoyibah sering muncul dalam ucapan yang aku sampaikan, sampai teman bilang “Beneran yah Ebong, semenjak berjilbab ucapannya Subhanallah Alhamdulillah mulu ciyeee…” (--- kemudian aku heran dan “masa iya sih? --- lalu senyum tipis”).

Dan lain-lain, dan lain-lain. Aku ingat tulisan di buku itu,
“Perempuan berjilbab belum tentu baik, tetapi perempuan yang baik pasti auratnya ditutupkan”
Jadi jangan pernah menjudge bahwa perempuan berjilbab dirinya wajib shaleh, berkelakuan baik, dst. Kami hanya manusia biasa yang tak luput dari khilaf. Lagipula aku belum menjadi perempuan yang memang benar-benar sempurna dalam menutup aurat, belum syar’i istilahnya. Model berjilbabku masih ngawur sesuai dengan keinginanku ketika dipakai. Tapiiii, Subhanallah sekali apalagi ketika awal-awal aku pergi keluar rumah dengan memakai jilbab, sering sekali ibu-ibu sengaja datang menghampiriku sekedar untuk bertanya “Bagaimana cara memakai jilbab seperti itu, dek? Itu jilbabnya bahan apa, dek?” dan karena aku sadar bahwa aku belum memakai jilbab secara syar’i, aku hanya menjawab sekedarnya karena aku tidak mau menjadi contoh cara berjilbab yang bukan telak aturan Islam. Aku berjilbab untuk diriku sendiri, bukan untuk dicontoh perempuan lain :’)

my new look with hijab
  
Ayo temanku yang ukhti-ukhti, segera berjilbab yaaah! Berjilbab sama sekali tidak menutup kecantikanmu, malah semenjak berjilbab aku merasa orang-orang sering berkomentar positif dengan pujian, Alhamdulillah gak nyangka. Seperti pacarku yang berkomentar ketika tahu aku mulai berjilbab… 


Sweet yah ©