Tuesday, September 17, 2013

Where Am I?

Tidaaak! Aku segan, aku minder saat pertama kali masuk ke ruangan itu. Tidak ada teman sebaya, tidak kutemukan paras-paras familiar yang kukenal. Sebagian besar orang dalam ruangan itu terlihat seperti yang sudah pernah melahirkan 2-3 orang anak, atau lelaki yang kesehariannya memakai kemeja, berdasi, bergelut di belakang layar tv, mencari berita, atau bahkan mengamalkan ilmunya kepada anak didiknya. Lalu, siapa aku? Untuk apa aku bersama orang-orang yang jauh lebih senior di tempat itu? Aku bukan siapa-siapa. Aku baru lulus kuliah, diwisuda beberapa minggu yang lalu, dan -belum- mendapatkan pekerjaan apa-apa.

… Pada sesi perkenalan, seorang wanita paruh baya membuat aku tersentak… "Saya Mawar (bukan nama sebenarnya), seorang ibu rumah tangga".
Apa?! Ibu rumah tangga? Apa yang dia cari disini??!

Hello S2, ini keinginan mama. Menginginkan aku menjadi dosen. Tapi aku sendiri masih ragu, bisakah aku kelak menjadi dosen? Sampai aku mengerti alasan ibu tersebut berkeinginan menimba ilmu kembali di tempat ini. Bukan hanya seorang pria atau orang yang memiliki harta lebih atau pula orang dengan alasan sebagai syarat agar naik pangkat untuk mau mengambil program Magister Komunikasi disini.
Aku percaya 1 hal, ntah nanti terlebih aku dapat mengabulkan keinginan mama untuk menjadi dosen atau tidak sama sekali, seorang wanita harus memiliki jenjang pendidikan yang tinggi. Bukan hanya untuk kepuasan materi (dalam hal ini mencari pekerjaan yang layak), terlepas dari itu semua, seorang wanita tersebut kelak akan menjadi ibu. Tugas seorang ibu adalah untuk dapat mengajarkan anaknya, baik dalam hal pendidikan formal, agama, dan attitude sekalipun. Maka dari itu, seorang wanita sebisanya dapat mengemban pendidikan yang tinggi. Ya, kita akan menjadi ibu. Ibulah yang mengajarkan dan mendidik. Sedang ayah yang mencari nafkah.
Aku tahu, aku sadar. Ya, pada akhirnya semua wanita kembali ke dapur. Tapi menjadi wanitapun dituntut untuk menjadi cerdas, tidak hanya mahir mengulek sambal. Ya, aku tidak lagi takut masuk ke ruangan ini. Aku ingin menjadi wanita panutan untuk anak-anakku kelak, mendidik dan mengajarkan mereka kebaikan. So, welcome
Magister Communication!